bagaimana jinggamu?
ah, kau tak usah merendah!
aku masih dapat melihatnya dengan baik.
dari jendela kamarku aku melihatnya…
masih indah…
jika sekali waktu kau melintas di depan rumahku,
singgahlah…
buang jauh seganmu,
tak ada siapa-siapa di sini,
tak ada yang perlu kau segani,
singgahlah…
sedikit pohon, tak beraturan
sisakan daun-daun berserakan
tapi kumohon,
jangan kau ganggu daun-daun itu!
aku menyukainya
aku menyayanginya
aku mencintainya
diamkan saja!
mereka tak mengganggu langkahmu bukan?
memang sekilas tertutup,
tapi tak terkunci!
masuklah…
tak perlu berbasa-basi
masuklah…
kau tahu kamarku bukan?
aku pun tak suka mengunci pintunya
jadi, langsung masuk saja
kau lupa kamarku?
bukankah kau dulu pernah kuajak masuk?
tak ingat?
ataukah tak pernah ingat?
ataukah kau sengaja membuang ingatan itu?
atau…
baiklah, tak usah kita berdebat
nanti aku mungkin akan mengantarmu ke dalamnya
saat kakimu berpijak pada rapuh lantai kamarku
saat matamu menelanjangi kusam kamarku
saat telingamu mendengar rintih kamarku
mungkin saat itu kau akan menertawakanku,
tak apa, aku cukup tahu segenap ketololanku,
tak perlu kau menangis!
cukup aku saja…
cukup aku, senja…
lewat jendela itu aku merindukanmu
lewat jendela itu aku menantikan hadirmu
senja…
jingga…
lembayung..
pesona menyelusup kamarku melalui tralis-tralis berpulas karat
cukup aku yang merelakan air mata
tak sia-sia…
aku tak akan pernah menyesalinya…
senja(ku),
jika sekali waktu matahari enggan bersahabat denganmu,
dan kau butuh tempat bernaung,
singgahlah…
jika sekali waktu bulir-bulir hujan ingin merenggut kebahagiaanmu,
dan kau butuh tempat berteduh,
singgahlah…
jika sekali waktu angin hendak menusuk-nusuk halusmu,
dan kau butuh tempat berlindung,
singgahlah…
senja(ku),
jika sekali waktu kau melintas di depan rumahku,
singgahlah…
1 comment:
Asa yang berpaling cepat, tepiskan angan sepihak...
Post a Comment