Wednesday, 11 June 2008

..pesona malela..


Curug Malela..
Nama ini barangkali belum banyak dikenal orang, kecuali bagi yang gemar bertualang dan mencari tempat-tempat baru. Padahal, objek wisata ini menyimpan pesona yang luar biasa. Dengan ukuran tinggi x lebar sekitar 70 x 70 m, tentu dapat dibayangkan bagaimana sensasi yang bisa diperoleh ketika berkunjung ke Curug Malela. Perjuangan "berat" akan terbayar oleh keindahannya.

Selama ini, Curug Malela yang terletak di Kp. Manglid Ds. Cicadas Kec. Rongga Kab. Bandung Barat, masih belum dikelola secara profesional. Padahal, potensi yang dimilikinya tidak bisa dibilang kecil. Oleh karena itu, sejumlah "putra daerah" yang menamakan diri Perhimpunan Remaja Pengelola Curug Malela (Parmala) berinisiatif untuk mengambil langkah.

"Ya kita kelola secara swadaya saja. Soalnya bantuan tak kunjung datang," tutur Unang Supardi, ketua Parmala. Saat ini, anggota Parmala yang aktif berjumlah 42 orang.

Mengenai asal usul, menurut M. Subarna (58), salah satu sesepuh desa Cicadas, nama Malela diambil dari nama Eyang Tadjimalela, yang menurut penduduk sekitar, ngageugeuh (menguasai) kawasan tersebut. "Bahkan, kalau sedang kebetulan, dia bisa menampakkan dirinya. Beberapa waktu lalu, ada yang ngambil foto curug. Waktu dilihat, di bawahnya ada gambar kakek-kakek berjenggot dengan baju serba putih," kata Subarna.

Curug Malela sebenarnya hanya salah satu dari tujuh curug lain yang berada dalam aliran Sungai Cidadap. Keenam curug lainnya bernama Curug Sumpel, Curug Katumbiri, Curug Ngebul,...

Aksesibilitas menjadi kendala utama yang menjadi hambatan pengembangan kawasan wisata ini. Dengan jarak sekitar 80 km arah barat daya dari pusat Kota Bandung, Desa Cicadas ini terbilang desa "paling ujung" dari Kab. Bandung Barat, yang berbatasan langsung dengan Kab. Cianjur. Untuk bisa mengunjungi desa ini dari Kota Bandung, diperlukan waktu sekitar 4 jam, dengan melewati beberapa kecamatan, yaitu Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, hingga Kec. Rongga.

Jika ingin menggunakan kendaraan umum, angkutan minibus dari Cimahi atau dari Bandung bisa menjadi pilihan. Hanya saja, angkutan ini hanya bisa sampai Sindangkerta. Sisa perjalanan harus ditempuh dengan ojek serta berjalan kaki.

Selain itu, kendaraan pribadi bisa juga digunakan. Namun perlu diingat, kendaraan yang dimaksud haruslah kendaraan tinggi, bukan jenis sedan. Pasalnya, sekitar 10 km jalan menuju Desa Cicadas berada dalam kondisi rusak parah. Kendaraan itu pun hanya bisa digunakan hingga Desa Cicadas, tidak sampai Curug Malela. Kendaraan bisa dititipkan di rumah penduduk, dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Perjalanan menuju pusat curug berjarak sekitar 2 km, dengan medan yang sangat curam. Perlu kondisi fisik prima serta kehati-hatian ekstra untuk melewatinya. Oleh karena itu, tak heran jika ada yang memperingatkan, Curug Malela bukan buat orang yang manja!

Kendati memerlukan perjuangan berat, keramahan penduduk desa akan dirasa sangat membantu. Mereka akan bersenang hati menerima para tamu yang akan berkunjung ke Curug Malela. Tak hanya mengantarkan, mereka pun bahkan tak keberatan jika rumahnya digunakan menginap oleh pendatang (setidaknya, itu yang saya alami).

Nah, tunggu apa lagi??

0 comments: