Thursday, 12 June 2008

..sukira..


Sukira (27) namanya. Nama yang singkat. Jauh lebih singkat dibanding pengalamannya mengecap rasa jalanan Bandung. Dinginnya lorong-lorong jalan dan kerasnya upaya bertahan hidup bukan hal asing lagi baginya. Kekerasan dan kriminal pernah menjadi bagian dari dirinya. Tapi itu dulu, ketika Sukira masih menghabiskan guliran waktunya di jalanan. Sebenarnya, sampai sekarang pun dia masih sering "turun" ke jalan. Tapi bukan sebagai anak jalanan, melainkan menjadi pendamping anak jalanan.

Perkenalan pertamanya dengan seluk beluk jalanan dimulai sejak tahun 1990-an, ketika Sukira kecil merantau dari tempat kelahirannya, Garut, menuju Bandung. “Saya sebetulnya tidak ingat pasti berapa usia saya waktu itu, tapi sepertinya masih di bawah 10 tahun. Waktu itu ke Bandung sendirian, ngeteng dari satu angkutan ke angkutan lain,” kenang Sukira, ketika ditemui Senin (2/6).

Saat memutuskan untuk pergi ke Bandung, Sukira sama sekali belum pernah duduk di bangku pendidikan formal. Harapan yang digenggamnya pun tak banyak. Dia hanya berniat mencari sang ayah, yang katanya tinggal di Bandung.

Kelanjutan ceritanya barangkali mudah ditebak. Mencari seseorang di sebuah kota besar tanpa alamat yang jelas tentunya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Terlebih jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa Sukira sama sekali tak memiliki saudara di Bandung. Maka jalanan Bandung pun menjadi rumah, sekaligus arena menempa nalurinya.

Seperti halnya anak-anak jalanan lain, hal yang Sukira pelajari pertama dari kehidupan jalan adalah bagaimana cara bertahan hidup. "Waktu itu belajarnya dari melihat. Misalnya melihat orang lain nyemir sepatu dan dapat uang, terus saya belajar bagaimana nyemir sepatu," katanya.

Oleh karena itu, tak heran jika dalam upayanya mempertahankan hidup, Sukira pernah menjalani berbagai "profesi". "Dulu pernah ngamen, ngemis, jual koran, sewa payung. Banyak lah," tuturnya. Tak hanya itu, dia juga mengaku pernah melakukan tindakan yang tergolong kriminal, seperti malak (meminta uang), mencuri, hingga mencopet.

Kehidupan jalanan Sukira sedikit berubah pada tahun 1994. Menurutnya, saat itu sejumlah LSM berusaha untuk mendampingi Sukira dan anak-anak jalanan lain. Dalam pendampingan itu, Sukira dibimbing untuk mengembangkan minat dan kemampuannya. Pada akhirnya, dia menemukan salah satu hal yang dia sukai, yaitu melukis. Lukisan yang dia buat memang tidak berisikan gambar gunung, sungai, dan sawah, melainkan gambar lingkungan jalanan yang sangat erat dengan kehidupannya.Kemudian sedikit demi sedikit, minatnya dalam bidang seni lukis dia tekuni. Usaha tersebut ternyata tak sia-sia. Tak jarang ada orang yang berminat untuk membeli lukisannya. Selain itu, dia juga kerap mengikuti pameran lukisan. “Lukisan saya pernah terjual Rp 35 juta. Waktu itu uangnya digunakan untuk menyumbang korban bencana alam,” kata Sukira.

Kekayaan pengalaman hidup di jalan membuat Sukira memberi perhatian lebih bagi anak-anak yang masih hidup di jalan. Dia tak ingin adik-adiknya yang masih hidup di jalan, mengalami hal yang dulu pernah dia lewati. Karena itu, sejak tahun 1999, dia aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memerhatikan perkembangan anak, Solidaritas Masyarakat Anak (Semak). Selama menjadi pendamping anak jalanan, Sukira lebih akrab disapa Kak Ira.
Dalam pendampingannya, Sukira berusaha melakukan berbagai pendekatan kepada anak-anak jalanan. Namun tentunya bukan pendekatan represif, melainkan persuasif. Setiap anak yang didampingi, diajak untuk mengeksplorasi berbagai hal dalam dirinya, termasuk minat, bakat, hingga cita-cita yang menggelayut di kepalanya. “Biasanya anak-anak diajak ngobrol dulu, dia maunya apa, nanti disalurkan. Kalau mau melukis, bermain musik, atau hal positif lain, ya kita sediakan medianya. Pada intinya, pola pendampingan seperti ini bertujuan agar anak jalanan tak lagi turun ke jalan,” tutur Sukira.

Selain itu, dia juga kerap melakukan kunjungan rumah (home visit). Metode ini dia gunakan untuk mendekati keluarga-keluarga yang memiliki “anak bermasalah”. Tujuannya agar dapat mengetahui akar permasalahan yang dihadapi si anak. Dalam upayanya tersebut, tak jarang dia mendapat tentangan dari keluarga maupun masyarakat sekitar.

Hal lain yang diupayakan adalah penyediaan taman bacaan, serta pelatihan keterampilan bagi anak jalanan. Dalam perkembangannya, keberadaan taman bacaan ini tak sekadar menjadi arena baca. Lebih jauh lagi, sejumlah anak jalanan saling berbagi cerita di tempat ini. Ya, tempat yang biasa disebut pos ini pada dasarnya menjadi sarana untuk berbagi kasih sayang. "Kadang ada juga yang dimarahi ibunya, terus lari ke pos (taman bacaan-red). Terus baca-baca buku atau cerita di sana," ujar Sukira, yang menikah dengan Ani Suryani (23) pada awal 2007.

Keseharian Sukira hingga hari ini masih diisi dengan sejumlah pendampingan bagi anak jalanan. Untuk jangka panjang, Sukira masih menyimpan sejumlah mimpi di kepalanya. "Saya sebenarnya masih ingin membangun sejenis sanggar untuk perkembangan anak-anak. Saya juga ingin membuat sekolah non-formal bagi anak-anak yang tidak punya akses untuk memasuki pendidikan formal. Itu harapan saya," ujar Sukira.

0 comments: