Monday, 16 June 2008

..dua jam tentang ayah..

Monitor komputer di hadapanku masih menyala, meski tak ada pergerakan yang terlihat di dalamnya. Seluruh jari tanganku bertumpu pada tombol-tombol keyboard yang sedari tadi tampak kesal karena hanya kusentuh tanpa sempat kutekan. Beberapa berkas bertebaran begitu saja di meja kerjaku. Seluruhnya telah kubaca. Tapi aku tak cukup tahu apa yang harus aku kerjakan setelahnya.

Dari belakang terdengar suara pintu kamar berderit, dibuka perlahan. Terlihat seraut wajah penuh kasih melemparkan seulas senyum padaku.

“Nang, belum tidur?” ujarnya di muka pintu.

“Belum, Bu. Kerjaannya belum selesai,” jawabku.

“Jangan kebanyakan begadang ya. Tak baik untuk kesehatan kamu,” lanjutnya lembut sembari kembali berusaha menutup pintu.

“Iya, Bu,” aku mengangguk perlahan.

Tiba-tiba ia kembali melongokkan wajahnya di sela pintu yang terbuka sedikit.

“Oya, Nang, masih soal korupsi itu?”

“Mmm…iya, Bu,” jawabku agak ragu.

“Ooh…” jawabnya datar. Mematung sejenak. Lalu menutup pintu.

Ibu. Wanita yang satu ini barangkali hanya satu-satunya wanita yang layak aku cintai sepenuhnya. Selama berbulan-bulan, aku menghisap sari-sari kehidupan lewat rahimnya. Lalu dilanjutkan dengan repotnya menyusuiku, mengganti popok, menemani ketakutanku saat pertama kali mengenal bangku sekolah. Miris aku membayangkan apa yang telah dia beri pada dan demi aku. Entah berapa banyak bahasa kasih yang telah ia curahkan hingga aku menjadi aku seperti malam ini. Tentu sangat wajar jika aku lebih mencintai ibu dibanding ayah.

Ayah? Bukan, bukan berarti aku tak mencintai ayah. Aku pun mencintainya. Namanya tak pernah absen dalam doa-doaku setelah salat. Hanya saja, aku memberi porsi lebih untuk ibu. Ah, ayah, apa kabar dia sekarang? Sudah cukup lama aku tak bertemu dengannya. Beberapa kali, belakangan ini, memang aku memang melihat, berbincang dengannya. Tapi kami tak benar-benar bertemu. Setidaknya, tak sebagai ayah dan anak.

Beberapa tahun lalu, entah dengan alasan apa, ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai. Ayah dan Ibu sama-sama menutupi soal itu. Beberapa kali aku mempertanyakan pada masing-masing mereka. Namun, tak pernah ada jawaban atasnya. Aku pun berusaha untuk tak ambil pusing dengan perceraian ini.

Tak lama berselang, ayah menikah lagi dengan wanita yang tak aku kenal. Katanya rekan sekerja ayah di kantor, sesama pegawai lembaga pemerintahan. Sementara di sini, ibu memilih untuk tidak menikah lagi. Barangkali ia berpendirian untuk sepenuhnya mencurahkan perhatian padaku, anak satu-satunya. Kini, di rumah ini hanya tersisa kami berdua, tanpa ayah, tanpa pembantu. Hanya kami berdua.

Selepas pensiun dari pekerjaan lamanya sebagai guru, ibu tak lagi bekerja. Sayangnya, kuliahku belum juga tuntas. Skripsiku terbengkalai. Untuk membantu penghidupan kami, aku magang di sebuah majalah berita mingguan. Terlalu muluk jika dibilang bahwa aku bekerja untuk menghidupi keluarga. Uang yang kudapat dari pekerjaanku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadiku. Tapi mudah-mudahan itu bisa sedikit mengurangi beban ibu yang pendapatannya hanya mengandalkan tunjangan pensiun.

***

Monitor komputer masih menyala. Tetap tanpa pergerakan di dalamnya. Jari-jariku masih enggan menekan tombol-tombol resah di permukaan keyboard. Keresahan tombol-tombol itu seakan ingin menimpali sayatan-sayatan kecil dalam batin manusia yang kali ini tengah berada di hadapannya.

Kunyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul begitu saja memenuhi ruangan. Menambah pengap. Menambah sesak. Kuambil berkas yang terserak tak beraturan di meja. Berkas penugasan yang harus kuselesaikan dan kukirim ke kantor tiga jam lagi. Kertas itu kubaca dan kubolak-balik entah untuk yang kesekian kalinya. Setiap huruf lewat begitu saja, tanpa satu pun yang mampu masuk ke dalam otakku.

***

“Kamu sanggup buat laporan ini?” tanya kepala biro padaku, seminggu lalu, di sela-sela kesibukan kantor.

“Sanggup, Pak.” mulutku menjawab penuh percaya diri, meski ada guratan ketidakyakinan dalam batinku.

Kepala biro tak segera beranjak dari mejaku. Matanya masih menatap. Tajam. Seakan ingin menyelami sedalam mungkin apa yang ada di benakku saat itu. Dan aku hanya mampu terdiam. Tanganku yang agak gelisah membuka-buka lembar penugasan, tanpa sedikitpun ada kalimat yang masuk ke dalam otakku. “Ya sudah. Tapi kalau di tengah jalan sekiranya kamu tak sanggup, kamu bisa kasih ke Rahmat,” ujarnya sambil meninggalkan mejaku.

Ah, memang baru setahun aku bekerja di sini. Namun, baru kali ini kepala biro tampaknya benar-benar ragu akan kemampuanku. Dia sepertinya tak cukup yakin tulisan ini dapat kuselesaikan dengan baik.

Barangkali kasus ini bukanlah kasus istimewa. Sebenarnya, sebelum kasus ini, banyak penugasan yang jauh lebih rumit dan mampu kuselesaikan dengan baik. Kasus ini hanyalah satu dari sekian banyak kasus korupsi yang kebetulan terungkap. Maklum, saat ini kasus-kasus seputar korupsi sepertinya sedang mendapat banyak perhatian publik. Bangsa ini pun masih menempati papan atas peringkat negara-negara terkorup. Untuk memperbaiki keadaan, terkait dengan kondisi yang maikn memprihatinkan, pemerintah pusat mengeluarkan pernyataan perang terhadap korupsi, dari tingkat teratas hingga terbawah. Praktis, segala sesuatu yang berbau korupsi akan memiliki nilai untuk layak terbit.

Tersangka utama kasus ini adalah seorang pejabat lembaga pemerintahan. Sebetulnya, jabatan dia tak begitu tinggi. Hanya saja, kebetulan ia sempat memegang tender untuk sebuah proyek dan diduga ada indikasi korupsi di dalamnya. Aku sempat merasa kasihan pada tersangka ini. Korupsinya tak begitu besar secara nominal. Maksudku, lebih banyak koruptor dengan tingkat korupsi lebih tinggi. Namun dengan segenap kehebatannya, mereka mampu menutupi segala perbuatannya. Sepertinya pejabat yang kasus korupsinya sedang kugarap ini hanyalah tikus yang sedang bernasib sial. Tapi simpati ini dengan segera kutepis. Korupsi, besar maupun kecil, terungkap atau tidak, tetap saja sebuah dosa. Dan tentunya layak mendapat perhatian.

Secara hukum, sebenarnya sang pejabat belum benar-benar terbukti bersalah. Namun, beberapa bukti menyudutkan sang pejabat ke posisi tersangka. Aku mengetahuinya karena aku memang tertarik untuk mengikuti proses hukum kasus ini. Beberapa kali persidangan terkait kasus ini selalu kuhadiri. Setiap berita di media lain pun selalu kuikuti dengan baik.

Walhasil, secara teknis, tak ada kesulitan berarti dalam pengerjaan laporan mengenai kasus ini. Referensi telah terkumpul dan mencukupi. Satu hal yang membuatku memiliki nilai lebih adalah bahwa aku cukup mengenal sang tersangka. Dengan begitu, wawancara dengannya dapat berjalan dengan lancar. Hanya saja, bayak kendala non-teknis yang menghambat proses penulisan laporan.

***

Asap rokok masih mengepul di ruangan ini. Dua jam telah berlalu. Monitor komputer di depanku kini telah terisi. Penuh. Selesai dan siap dikirimkan. Barangkali akan terbit dua hari lagi, sebagai bagian dari laporan utama. Laporan yang kubuat dalam dua jam. Dua jam yang menyesakkan. Dua jam yang sanggup menyumbat labirin-labirin otak rapuhku. Dua jam yang memaksaku untuk berkutat dengan kepingan-kepingan pembawa kenangan masa lalu. Dua jam yang dipenuhi kepedihan saat sayatan-sayatan kecil setia mengiringi setiap huruf yang muncul di layar monitor. Dua jam yang barangkali akan membuat ayahku makin dikenal banyak orang.

“Maafkan aku, Ayah,” bisikku lirih. Dalam hati, sesaat sebelum mengirimkan laporan ke kantor pusat.

jatinangor, 160606

1 comment:

Badut Melankolis said...

Naha tulisanna asa pernah maca?