Tuesday, 17 June 2008

..singgahlah..


timbuktu, 160705


apa kabar, senja(ku)!
bagaimana jinggamu?
ah, kau tak usah merendah!
aku masih dapat melihatnya dengan baik.
dari jendela kamarku aku melihatnya…
masih indah…

senja(ku)…
jika sekali waktu kau melintas di depan rumahku,
singgahlah…
buang jauh seganmu,
tak ada siapa-siapa di sini,
tak ada yang perlu kau segani,
singgahlah…

halaman rumahku masih seperti dulu
sedikit pohon, tak beraturan
sisakan daun-daun berserakan
tapi kumohon,
jangan kau ganggu daun-daun itu!
aku menyukainya
aku menyayanginya
aku mencintainya
diamkan saja!
mereka tak mengganggu langkahmu bukan?

pintu rumahku tak terkunci,
memang sekilas tertutup,
tapi tak terkunci!
masuklah…
tak perlu berbasa-basi
masuklah…

kau tahu kamarku bukan?
aku pun tak suka mengunci pintunya
jadi, langsung masuk saja

kau lupa kamarku?
bukankah kau dulu pernah kuajak masuk?
tak ingat?
ataukah tak pernah ingat?
ataukah kau sengaja membuang ingatan itu?
atau…

baiklah, tak usah kita berdebat
nanti aku mungkin akan mengantarmu ke dalamnya

saat kakimu berpijak pada rapuh lantai kamarku
saat matamu menelanjangi kusam kamarku
saat telingamu mendengar rintih kamarku
mungkin saat itu kau akan menertawakanku,
tak apa, aku cukup tahu segenap ketololanku,

saat kau melihat jendela kamarku,
tak perlu kau menangis!
cukup aku saja…
cukup aku, senja…

ya, lewat jendela itulah aku mengagumi keindahanmu
lewat jendela itu aku merindukanmu
lewat jendela itu aku menantikan hadirmu
senja…
jingga…
lembayung..
pesona menyelusup kamarku melalui tralis-tralis berpulas karat
cukup aku yang merelakan air mata
tak sia-sia…
aku tak akan pernah menyesalinya…

senja(ku),
jika sekali waktu matahari enggan bersahabat denganmu,
dan kau butuh tempat bernaung,
singgahlah…
jika sekali waktu bulir-bulir hujan ingin merenggut kebahagiaanmu,
dan kau butuh tempat berteduh,
singgahlah…
jika sekali waktu angin hendak menusuk-nusuk halusmu,
dan kau butuh tempat berlindung,
singgahlah…

senja(ku),
jika sekali waktu kau melintas di depan rumahku,
singgahlah…

Monday, 16 June 2008

..dua jam tentang ayah..

Monitor komputer di hadapanku masih menyala, meski tak ada pergerakan yang terlihat di dalamnya. Seluruh jari tanganku bertumpu pada tombol-tombol keyboard yang sedari tadi tampak kesal karena hanya kusentuh tanpa sempat kutekan. Beberapa berkas bertebaran begitu saja di meja kerjaku. Seluruhnya telah kubaca. Tapi aku tak cukup tahu apa yang harus aku kerjakan setelahnya.

Dari belakang terdengar suara pintu kamar berderit, dibuka perlahan. Terlihat seraut wajah penuh kasih melemparkan seulas senyum padaku.

“Nang, belum tidur?” ujarnya di muka pintu.

“Belum, Bu. Kerjaannya belum selesai,” jawabku.

“Jangan kebanyakan begadang ya. Tak baik untuk kesehatan kamu,” lanjutnya lembut sembari kembali berusaha menutup pintu.

“Iya, Bu,” aku mengangguk perlahan.

Tiba-tiba ia kembali melongokkan wajahnya di sela pintu yang terbuka sedikit.

“Oya, Nang, masih soal korupsi itu?”

“Mmm…iya, Bu,” jawabku agak ragu.

“Ooh…” jawabnya datar. Mematung sejenak. Lalu menutup pintu.

Ibu. Wanita yang satu ini barangkali hanya satu-satunya wanita yang layak aku cintai sepenuhnya. Selama berbulan-bulan, aku menghisap sari-sari kehidupan lewat rahimnya. Lalu dilanjutkan dengan repotnya menyusuiku, mengganti popok, menemani ketakutanku saat pertama kali mengenal bangku sekolah. Miris aku membayangkan apa yang telah dia beri pada dan demi aku. Entah berapa banyak bahasa kasih yang telah ia curahkan hingga aku menjadi aku seperti malam ini. Tentu sangat wajar jika aku lebih mencintai ibu dibanding ayah.

Ayah? Bukan, bukan berarti aku tak mencintai ayah. Aku pun mencintainya. Namanya tak pernah absen dalam doa-doaku setelah salat. Hanya saja, aku memberi porsi lebih untuk ibu. Ah, ayah, apa kabar dia sekarang? Sudah cukup lama aku tak bertemu dengannya. Beberapa kali, belakangan ini, memang aku memang melihat, berbincang dengannya. Tapi kami tak benar-benar bertemu. Setidaknya, tak sebagai ayah dan anak.

Beberapa tahun lalu, entah dengan alasan apa, ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai. Ayah dan Ibu sama-sama menutupi soal itu. Beberapa kali aku mempertanyakan pada masing-masing mereka. Namun, tak pernah ada jawaban atasnya. Aku pun berusaha untuk tak ambil pusing dengan perceraian ini.

Tak lama berselang, ayah menikah lagi dengan wanita yang tak aku kenal. Katanya rekan sekerja ayah di kantor, sesama pegawai lembaga pemerintahan. Sementara di sini, ibu memilih untuk tidak menikah lagi. Barangkali ia berpendirian untuk sepenuhnya mencurahkan perhatian padaku, anak satu-satunya. Kini, di rumah ini hanya tersisa kami berdua, tanpa ayah, tanpa pembantu. Hanya kami berdua.

Selepas pensiun dari pekerjaan lamanya sebagai guru, ibu tak lagi bekerja. Sayangnya, kuliahku belum juga tuntas. Skripsiku terbengkalai. Untuk membantu penghidupan kami, aku magang di sebuah majalah berita mingguan. Terlalu muluk jika dibilang bahwa aku bekerja untuk menghidupi keluarga. Uang yang kudapat dari pekerjaanku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadiku. Tapi mudah-mudahan itu bisa sedikit mengurangi beban ibu yang pendapatannya hanya mengandalkan tunjangan pensiun.

***

Monitor komputer masih menyala. Tetap tanpa pergerakan di dalamnya. Jari-jariku masih enggan menekan tombol-tombol resah di permukaan keyboard. Keresahan tombol-tombol itu seakan ingin menimpali sayatan-sayatan kecil dalam batin manusia yang kali ini tengah berada di hadapannya.

Kunyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul begitu saja memenuhi ruangan. Menambah pengap. Menambah sesak. Kuambil berkas yang terserak tak beraturan di meja. Berkas penugasan yang harus kuselesaikan dan kukirim ke kantor tiga jam lagi. Kertas itu kubaca dan kubolak-balik entah untuk yang kesekian kalinya. Setiap huruf lewat begitu saja, tanpa satu pun yang mampu masuk ke dalam otakku.

***

“Kamu sanggup buat laporan ini?” tanya kepala biro padaku, seminggu lalu, di sela-sela kesibukan kantor.

“Sanggup, Pak.” mulutku menjawab penuh percaya diri, meski ada guratan ketidakyakinan dalam batinku.

Kepala biro tak segera beranjak dari mejaku. Matanya masih menatap. Tajam. Seakan ingin menyelami sedalam mungkin apa yang ada di benakku saat itu. Dan aku hanya mampu terdiam. Tanganku yang agak gelisah membuka-buka lembar penugasan, tanpa sedikitpun ada kalimat yang masuk ke dalam otakku. “Ya sudah. Tapi kalau di tengah jalan sekiranya kamu tak sanggup, kamu bisa kasih ke Rahmat,” ujarnya sambil meninggalkan mejaku.

Ah, memang baru setahun aku bekerja di sini. Namun, baru kali ini kepala biro tampaknya benar-benar ragu akan kemampuanku. Dia sepertinya tak cukup yakin tulisan ini dapat kuselesaikan dengan baik.

Barangkali kasus ini bukanlah kasus istimewa. Sebenarnya, sebelum kasus ini, banyak penugasan yang jauh lebih rumit dan mampu kuselesaikan dengan baik. Kasus ini hanyalah satu dari sekian banyak kasus korupsi yang kebetulan terungkap. Maklum, saat ini kasus-kasus seputar korupsi sepertinya sedang mendapat banyak perhatian publik. Bangsa ini pun masih menempati papan atas peringkat negara-negara terkorup. Untuk memperbaiki keadaan, terkait dengan kondisi yang maikn memprihatinkan, pemerintah pusat mengeluarkan pernyataan perang terhadap korupsi, dari tingkat teratas hingga terbawah. Praktis, segala sesuatu yang berbau korupsi akan memiliki nilai untuk layak terbit.

Tersangka utama kasus ini adalah seorang pejabat lembaga pemerintahan. Sebetulnya, jabatan dia tak begitu tinggi. Hanya saja, kebetulan ia sempat memegang tender untuk sebuah proyek dan diduga ada indikasi korupsi di dalamnya. Aku sempat merasa kasihan pada tersangka ini. Korupsinya tak begitu besar secara nominal. Maksudku, lebih banyak koruptor dengan tingkat korupsi lebih tinggi. Namun dengan segenap kehebatannya, mereka mampu menutupi segala perbuatannya. Sepertinya pejabat yang kasus korupsinya sedang kugarap ini hanyalah tikus yang sedang bernasib sial. Tapi simpati ini dengan segera kutepis. Korupsi, besar maupun kecil, terungkap atau tidak, tetap saja sebuah dosa. Dan tentunya layak mendapat perhatian.

Secara hukum, sebenarnya sang pejabat belum benar-benar terbukti bersalah. Namun, beberapa bukti menyudutkan sang pejabat ke posisi tersangka. Aku mengetahuinya karena aku memang tertarik untuk mengikuti proses hukum kasus ini. Beberapa kali persidangan terkait kasus ini selalu kuhadiri. Setiap berita di media lain pun selalu kuikuti dengan baik.

Walhasil, secara teknis, tak ada kesulitan berarti dalam pengerjaan laporan mengenai kasus ini. Referensi telah terkumpul dan mencukupi. Satu hal yang membuatku memiliki nilai lebih adalah bahwa aku cukup mengenal sang tersangka. Dengan begitu, wawancara dengannya dapat berjalan dengan lancar. Hanya saja, bayak kendala non-teknis yang menghambat proses penulisan laporan.

***

Asap rokok masih mengepul di ruangan ini. Dua jam telah berlalu. Monitor komputer di depanku kini telah terisi. Penuh. Selesai dan siap dikirimkan. Barangkali akan terbit dua hari lagi, sebagai bagian dari laporan utama. Laporan yang kubuat dalam dua jam. Dua jam yang menyesakkan. Dua jam yang sanggup menyumbat labirin-labirin otak rapuhku. Dua jam yang memaksaku untuk berkutat dengan kepingan-kepingan pembawa kenangan masa lalu. Dua jam yang dipenuhi kepedihan saat sayatan-sayatan kecil setia mengiringi setiap huruf yang muncul di layar monitor. Dua jam yang barangkali akan membuat ayahku makin dikenal banyak orang.

“Maafkan aku, Ayah,” bisikku lirih. Dalam hati, sesaat sebelum mengirimkan laporan ke kantor pusat.

jatinangor, 160606

Thursday, 12 June 2008

..sukira..


Sukira (27) namanya. Nama yang singkat. Jauh lebih singkat dibanding pengalamannya mengecap rasa jalanan Bandung. Dinginnya lorong-lorong jalan dan kerasnya upaya bertahan hidup bukan hal asing lagi baginya. Kekerasan dan kriminal pernah menjadi bagian dari dirinya. Tapi itu dulu, ketika Sukira masih menghabiskan guliran waktunya di jalanan. Sebenarnya, sampai sekarang pun dia masih sering "turun" ke jalan. Tapi bukan sebagai anak jalanan, melainkan menjadi pendamping anak jalanan.

Perkenalan pertamanya dengan seluk beluk jalanan dimulai sejak tahun 1990-an, ketika Sukira kecil merantau dari tempat kelahirannya, Garut, menuju Bandung. “Saya sebetulnya tidak ingat pasti berapa usia saya waktu itu, tapi sepertinya masih di bawah 10 tahun. Waktu itu ke Bandung sendirian, ngeteng dari satu angkutan ke angkutan lain,” kenang Sukira, ketika ditemui Senin (2/6).

Saat memutuskan untuk pergi ke Bandung, Sukira sama sekali belum pernah duduk di bangku pendidikan formal. Harapan yang digenggamnya pun tak banyak. Dia hanya berniat mencari sang ayah, yang katanya tinggal di Bandung.

Kelanjutan ceritanya barangkali mudah ditebak. Mencari seseorang di sebuah kota besar tanpa alamat yang jelas tentunya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Terlebih jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa Sukira sama sekali tak memiliki saudara di Bandung. Maka jalanan Bandung pun menjadi rumah, sekaligus arena menempa nalurinya.

Seperti halnya anak-anak jalanan lain, hal yang Sukira pelajari pertama dari kehidupan jalan adalah bagaimana cara bertahan hidup. "Waktu itu belajarnya dari melihat. Misalnya melihat orang lain nyemir sepatu dan dapat uang, terus saya belajar bagaimana nyemir sepatu," katanya.

Oleh karena itu, tak heran jika dalam upayanya mempertahankan hidup, Sukira pernah menjalani berbagai "profesi". "Dulu pernah ngamen, ngemis, jual koran, sewa payung. Banyak lah," tuturnya. Tak hanya itu, dia juga mengaku pernah melakukan tindakan yang tergolong kriminal, seperti malak (meminta uang), mencuri, hingga mencopet.

Kehidupan jalanan Sukira sedikit berubah pada tahun 1994. Menurutnya, saat itu sejumlah LSM berusaha untuk mendampingi Sukira dan anak-anak jalanan lain. Dalam pendampingan itu, Sukira dibimbing untuk mengembangkan minat dan kemampuannya. Pada akhirnya, dia menemukan salah satu hal yang dia sukai, yaitu melukis. Lukisan yang dia buat memang tidak berisikan gambar gunung, sungai, dan sawah, melainkan gambar lingkungan jalanan yang sangat erat dengan kehidupannya.Kemudian sedikit demi sedikit, minatnya dalam bidang seni lukis dia tekuni. Usaha tersebut ternyata tak sia-sia. Tak jarang ada orang yang berminat untuk membeli lukisannya. Selain itu, dia juga kerap mengikuti pameran lukisan. “Lukisan saya pernah terjual Rp 35 juta. Waktu itu uangnya digunakan untuk menyumbang korban bencana alam,” kata Sukira.

Kekayaan pengalaman hidup di jalan membuat Sukira memberi perhatian lebih bagi anak-anak yang masih hidup di jalan. Dia tak ingin adik-adiknya yang masih hidup di jalan, mengalami hal yang dulu pernah dia lewati. Karena itu, sejak tahun 1999, dia aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memerhatikan perkembangan anak, Solidaritas Masyarakat Anak (Semak). Selama menjadi pendamping anak jalanan, Sukira lebih akrab disapa Kak Ira.
Dalam pendampingannya, Sukira berusaha melakukan berbagai pendekatan kepada anak-anak jalanan. Namun tentunya bukan pendekatan represif, melainkan persuasif. Setiap anak yang didampingi, diajak untuk mengeksplorasi berbagai hal dalam dirinya, termasuk minat, bakat, hingga cita-cita yang menggelayut di kepalanya. “Biasanya anak-anak diajak ngobrol dulu, dia maunya apa, nanti disalurkan. Kalau mau melukis, bermain musik, atau hal positif lain, ya kita sediakan medianya. Pada intinya, pola pendampingan seperti ini bertujuan agar anak jalanan tak lagi turun ke jalan,” tutur Sukira.

Selain itu, dia juga kerap melakukan kunjungan rumah (home visit). Metode ini dia gunakan untuk mendekati keluarga-keluarga yang memiliki “anak bermasalah”. Tujuannya agar dapat mengetahui akar permasalahan yang dihadapi si anak. Dalam upayanya tersebut, tak jarang dia mendapat tentangan dari keluarga maupun masyarakat sekitar.

Hal lain yang diupayakan adalah penyediaan taman bacaan, serta pelatihan keterampilan bagi anak jalanan. Dalam perkembangannya, keberadaan taman bacaan ini tak sekadar menjadi arena baca. Lebih jauh lagi, sejumlah anak jalanan saling berbagi cerita di tempat ini. Ya, tempat yang biasa disebut pos ini pada dasarnya menjadi sarana untuk berbagi kasih sayang. "Kadang ada juga yang dimarahi ibunya, terus lari ke pos (taman bacaan-red). Terus baca-baca buku atau cerita di sana," ujar Sukira, yang menikah dengan Ani Suryani (23) pada awal 2007.

Keseharian Sukira hingga hari ini masih diisi dengan sejumlah pendampingan bagi anak jalanan. Untuk jangka panjang, Sukira masih menyimpan sejumlah mimpi di kepalanya. "Saya sebenarnya masih ingin membangun sejenis sanggar untuk perkembangan anak-anak. Saya juga ingin membuat sekolah non-formal bagi anak-anak yang tidak punya akses untuk memasuki pendidikan formal. Itu harapan saya," ujar Sukira.

Wednesday, 11 June 2008

..pesona malela..


Curug Malela..
Nama ini barangkali belum banyak dikenal orang, kecuali bagi yang gemar bertualang dan mencari tempat-tempat baru. Padahal, objek wisata ini menyimpan pesona yang luar biasa. Dengan ukuran tinggi x lebar sekitar 70 x 70 m, tentu dapat dibayangkan bagaimana sensasi yang bisa diperoleh ketika berkunjung ke Curug Malela. Perjuangan "berat" akan terbayar oleh keindahannya.

Selama ini, Curug Malela yang terletak di Kp. Manglid Ds. Cicadas Kec. Rongga Kab. Bandung Barat, masih belum dikelola secara profesional. Padahal, potensi yang dimilikinya tidak bisa dibilang kecil. Oleh karena itu, sejumlah "putra daerah" yang menamakan diri Perhimpunan Remaja Pengelola Curug Malela (Parmala) berinisiatif untuk mengambil langkah.

"Ya kita kelola secara swadaya saja. Soalnya bantuan tak kunjung datang," tutur Unang Supardi, ketua Parmala. Saat ini, anggota Parmala yang aktif berjumlah 42 orang.

Mengenai asal usul, menurut M. Subarna (58), salah satu sesepuh desa Cicadas, nama Malela diambil dari nama Eyang Tadjimalela, yang menurut penduduk sekitar, ngageugeuh (menguasai) kawasan tersebut. "Bahkan, kalau sedang kebetulan, dia bisa menampakkan dirinya. Beberapa waktu lalu, ada yang ngambil foto curug. Waktu dilihat, di bawahnya ada gambar kakek-kakek berjenggot dengan baju serba putih," kata Subarna.

Curug Malela sebenarnya hanya salah satu dari tujuh curug lain yang berada dalam aliran Sungai Cidadap. Keenam curug lainnya bernama Curug Sumpel, Curug Katumbiri, Curug Ngebul,...

Aksesibilitas menjadi kendala utama yang menjadi hambatan pengembangan kawasan wisata ini. Dengan jarak sekitar 80 km arah barat daya dari pusat Kota Bandung, Desa Cicadas ini terbilang desa "paling ujung" dari Kab. Bandung Barat, yang berbatasan langsung dengan Kab. Cianjur. Untuk bisa mengunjungi desa ini dari Kota Bandung, diperlukan waktu sekitar 4 jam, dengan melewati beberapa kecamatan, yaitu Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, hingga Kec. Rongga.

Jika ingin menggunakan kendaraan umum, angkutan minibus dari Cimahi atau dari Bandung bisa menjadi pilihan. Hanya saja, angkutan ini hanya bisa sampai Sindangkerta. Sisa perjalanan harus ditempuh dengan ojek serta berjalan kaki.

Selain itu, kendaraan pribadi bisa juga digunakan. Namun perlu diingat, kendaraan yang dimaksud haruslah kendaraan tinggi, bukan jenis sedan. Pasalnya, sekitar 10 km jalan menuju Desa Cicadas berada dalam kondisi rusak parah. Kendaraan itu pun hanya bisa digunakan hingga Desa Cicadas, tidak sampai Curug Malela. Kendaraan bisa dititipkan di rumah penduduk, dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Perjalanan menuju pusat curug berjarak sekitar 2 km, dengan medan yang sangat curam. Perlu kondisi fisik prima serta kehati-hatian ekstra untuk melewatinya. Oleh karena itu, tak heran jika ada yang memperingatkan, Curug Malela bukan buat orang yang manja!

Kendati memerlukan perjuangan berat, keramahan penduduk desa akan dirasa sangat membantu. Mereka akan bersenang hati menerima para tamu yang akan berkunjung ke Curug Malela. Tak hanya mengantarkan, mereka pun bahkan tak keberatan jika rumahnya digunakan menginap oleh pendatang (setidaknya, itu yang saya alami).

Nah, tunggu apa lagi??